2013/12/14

[repost] Desain Lo Kok Mahal, Sih?

Temen saya, beberapa waktu lalu ngelink blog yang bahas ini. Saya yakin, beberapa dari kalian yang baca blog saya kadang haruus bacca tulisan yang bersangkutan karena saya sangat setuju dengan apa yang dia tulis. Mungkin beberapa orang yang juga seorang desainer akan merasakan yang sama. Selamat membaca!

Pernah ngomong gitu gak ke desainer? Misalnya minta dibikin desain logo, desain kebaya, desain cover, desain interior tempat usaha, atau website dagangan kalian…
Pas ngelihat quotation, mata melotot melihat deretan angka yang ditawarkan. Padahal menurut kalian *mungkin*, sang desainer bukan orang terkenal, gak eksis, portfolionya gak ada di internet, namanya gak pernah masuk majalah, de es te. Kenapa dia bisa ngasih harga mahal, ya?
Tapi tunggu, yang kalian maksud dengan mahal itu apa sebenarnya? Standar mahal kalian apa? Ya saya ketawa sih, kalo kalian bilang ngedesain website seharga *misalnya* Rp. 250.000 itu mahal. Atau desain company profile seharga Rp.2.500.000 itu mahal? Standar orang beda-beda sih, tapi kalo harga segitu aja dibilang mahal, berarti mending kalian berhenti membaca postingan ini dan silakan lanjutkan main twitter.
Nah, jadi, gue mau ngasi sedikit gambaran, kenapa harga desain bisa mahal *menurut kalian/klien*. Apa alesannya si Anu maupun Si Itu bisa ngasih harga sekian dalam penawaran.
1. Modalnya gede.
Desainer grafis, desainer fesyen, arsitek, dan yang lainnya bukan profesi yang gampang diraih begitu aja. Mereka perlu skill, dan tools. Kalian tahu nggak berapa banyak uang yang perlu dikorbankan untuk menjadi Graphic Designer *karena gue taunya untuk posisi itu aja*?
Mulai dari uang kuliah. Sekarang uang kuliah di universitas yang lumayan bagus, khusus Fakultas Desain dan sejenisnya, sekurang-kurangnya mencapai Rp. 10.000.000 per semester. Uang masuknya saja bisa lebih dari Rp.20.000.000. Jadi kalau ditotal, minimal uang masuk sampai uang semester hingga lulus, bisa menghabiskan sekitar Rp.100.000.000. Itu minimal.
Udah? Gitu aja? Noooo… Mahasiswa FSRD harus punya perangkat komputer yang menunjang tugas kuliah mereka. Ibaratnya, 2 juta aja nggak dapet :) Itu belum ditambah flashdisk, hard disk external, pen tablet, laptop (hari gini mahasiswa desain udah pada bawa laptop, gak kayak jaman gue), dan ada juga yang sampe beli kamera. Kalo ditotal semuanya, mungkin bisa habis 15-20juta.
Masih ada lagi dooonk! Perangkat tugas kuliah juga harus dihitung. Mulai dari alat gambar seperti cat, kuas, buku gambar, kertas, pensil, drawing pen, buku-buku diktat, fotocopy, buku tipografi. Sampe akhirnya ke tuga-tugas kuliah itu sendiri. Sepengalaman gue, untuk 1 tugas besar, gue bisa ngabisin 250-500ribu. Yang bapaknya tajir, bahkan bisa ngeluarin duit sampai 2jutaan untuk tugas kuliah *serius, ada yang begitu*. Nah, untuk ini aja mungkin satu semester bisa keluar 2-5juta rupiah. Pas Tugas Akhir, minimal uang yang dikeluarkan untuk ngeprint dan bikin display bisa Rp.2.000.000. Dan itu baru minimal.
Jadi kalau ditotal, selama 8 tahun kuliah, kasarnya, seorang mahasiswa desain memerlukan uang sebesar 150-200juta. Bahkan mungkin lebih. Itu kalau kuliahnya di universitas swasta yang lumayan bagus. Kalau yang jelas bagus, ya jauh lebih mahal lagi. Dan itu hitungan gue tahun 2004-2009 loh, ya. Gue gak berani ngitung pengeluaran mahasiswa angkatan 2010 ke atas.
Dengan modal segitu besar, wajar mereka nggak mau dinilai sama dengan orang-orang yang  jualan logo pake template. Mungkin ada yang pernah nemu ada yang berani jual desain logo Rp.50.000? Silakan bandingkan hasilnya dengan desain logo anak-anak yang masih kuliah. Pasti beda :)
Bukan berarti yang nggak kuliah desain otomatis nggak bisa desain. Banyak kok yang tauknya pas kuliah belajar FISIP atau IT, eh ternyata ngedesainnya jago. Ato malah gak kuliah sama sekali. Tapi mereka juga harganya gak gobanan.

2. Jam Kerja Extra
Hampir semua freelancer pasti ngerasain ini : saat klien tidur nyenyak, kita malah kerja sampai pagi. Belum lagi ditambah kalo kerjanya dobel, alias masih berstatus pegawai. Bisa-bisa dalam seminggu cuma tidur 2-4 jam tiap malamnya. Sisanya kerja. Sukur-sukur bisa nongkrong ngopi-ngopi 2 jam sama temen-temen.
Saat kita punya deadline yang mepet di kantor, harus mikirin gimana caranya bisa nyelesein deadline satu lagi. Kalau projectnya mayan gede dan ribet, otomatis banyak hal yang harus dikorbankan. Dan itu, adalah materi yang gak bisa dinilai dengan uang.

3. Modal Kerja
Freelancer, biasanya, wajib punya : laptop, pulsa, koneksi internet. Tambahan lainnya jika dibutuhkan : kamera, pen tablet, alat gambar, duit buat beli kopi di kafe dengan koneksi wi-fi memadai, dll, tergantung projectnya apa. Jadi bukan “sim salabim jadilah desain kebaya!”. Semuanya pake modal.

4. Sama Sama Cari Makan
Katakanlah begini. Anda memiliki usaha pabrik tempe. Berapa harga produksi tempe Anda per kilo? Mulai dari gaji pegawai, harga bahan baku, sampai harga alat-alat pengolah tempe yang anda punya. Coba kalau pelanggan Anda, hanya mau membayar harga bahan baku. Katakanlah Rp.5.000 per kilo. Bagaimana tanggapan Anda?
Perkiraan saya, biasanya tanggapan orang yang usaha, begini : “Enak aja. Saya bikin tempe pake tenaga dan usaha. Lah, kalo sampeyan cuma bayar modalnya aja, saya dapet apa? Pegawai saya gimana gajinya? Saya makan apa?”
Nah :)
Coba pola pikir itu dipakai juga saat Anda menyewa jasa atau membeli produk orang lain. Anda saja maunya dapat untung, masa Anda tidak terima kalau desainer cari untung? Sebagai sesama pengusaha *halah* mestinya kita saling menghargai. Hargai tenaga orang, agar orang menghargai juga usaha Anda.

5. IDE itu Priceless
Anda novelis? Musisi? Pengusaha butik? Apa perasaan Anda kalau tiba-tiba ada temen Anda yang dateng, trus bilang “Ciyyn, gue bagi novel lo 10 biji, donk. Gratis yaaa.”
Atau begini, “Beb, bagi baju kawinan dari koleksi lo donk. Yang brokatnya import dari Prancis itu. Tapi eyke beli sejuta aja yaaa…” Padahal kalo beli di toko, gaun pengantinnya harganya 25 juta. Syok nggak?
Intinya adalah, kalian tahu susahnya membuat sesuatu, susahnya menulis, susahnya bikin lagu, susahnya bikin konsep dll. Pasti kalian pengen banget karya dan produk kalian dihargai oleh orang lain. Selain itu kalian pasti akan menjual karya/produk kalian dengan standar harga tertentu. Maka hargailah juga desainer yang sudah membantu kalian. Desainer yang merancang interior butik kalian, yang membuat cover buku kalian, yang membantu mendesain pakaian kalian, dan sebagainya. Karena toh, semua itu balik-baliknya akan mempengaruhi bisnis kalian juga. Interior yang menarik, bisa menarik pelanggan. Brosus yang eye catchy dan informatif, bisa membuat promosi lebih efektif. Bukan begitu, bukan?

Itu lah kira-kira kenapa seorang desainer memasang harga tertentu. Ada yang cukup murah sebenarnya, tapi mungkin ada yang sampai puluhan juta (atau milayaran kayak logo BNI46 itu). Semua itu pasti ada alasannya kenapa mereka ngasih harga segitu. Ada yang masih mau kasih harga temen, tapi ada juga yang lihat-lihat jenis usahanya. Ibaratnya, harga desain logo untuk warung kopi dan butik multi-nasional, pasti beda. Masa pengusaha dengan omzet puluhan sampe ratusan juta per bulan minta harga yang sama dengan yang hanya sekian juta per bulan?
Intinya, berapapun harga yang ditawarkan oleh desainer, pasti ada pertimbangannya. Baik external maupun internal. Kualitas dan deadline pun dipertimbangkan.
Postingan ini gue bikin berdasarkan pengalaman gue dan temen-temen gue. Karena gue juga sering nanya-nanya ke sesama temen atau desainer-desainer senior yang gue kenal. Kalau ada yang menurut temen-temen sekalian kurang berkenan atau nggak sesuai kenyataan, silakan dikoreksi atau ditambahkan. Karena mungkin ada yang pengalamannya berbeda :D
Yang pasti intinya sih yang namanya usaha dan ide itu harus dihargai, apapun usahanya.


source: http://macangadungan.com/2012/09/20/desain-lo-kok-mahal-sih/

No comments:

Post a Comment