2014/03/20

Maaf untuk Hari Ini

Menjadi dewasa itu bukan suatu pilihan, bukan sesuatu keharusan, tetapi menjadi dewasa adalah bagian kehidupan. Dimana bukan saatnya lagi tidak menggunakan logika berpikir sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan tidak bergantung kepada orang lain. Sadarlah ketika umur ini semakin bertambah dan terkadang orang-orang disekitar satu persatu pergi karena punya urusan lain, dimanakah kita harus bersandar selain kepadaNya? orang lain LAGI kah? Sadarlah bawa diri ini ada dan perlu diakui keberadaannya, bukan lagi bergantung kepada orang lain.
Dewasa? seberapa besarkah kita pantas disebut dewasa? dulu ketika masih belajar mengenali sekaligus memahami dunia ini akan merasa 'keren' ketika menjadi dewasa. Seberapa keren kah itu? bisakah pernyataan itu pada akhirnya dipertanggungjawabkan. Kalau kenyataannya kini, ketika orang lain menyebutnya "dewasa", hal tersebut tidak tercermin sama sekali. Sadarlah ketika menjadi dewasa itu bukan hal yang mengasyikan! lihat saja apa yang paling banyak kau temui, selain yang namanya masalah. Semakin sering kau bertemu dengannya maka semakin sering pula bertemu dengan stress. Tapi bukan masalah namanya, ketika ia datang, lalu ia tidak menagih janjimu untuk menyelesaikannya bahkan harus diselesaikan. Bahkan dari hal yang sepele pun, masalah akan terus berusaha agar dirinya tetap bertemu dengan kita.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita harus bersikap?
Menyelesaikannya itu pasti, lalu ... ?
Kita amat perlu belajar untuk menjadi dewasa karena seharusnya fase dewasa itulah yang bisa membuat kita kebal terhadap masalah, dan menjadi dewasa itulah kesulitannya :(

Banyak hal yang harus diselesaikan, seharusnya ini tidak menjadi suatu hal yang harus dibesar-besarkan, Toh .. kita sama-sama tau posisi kita berada dimana saat ini. Seharusnya tau bagaimana harus bersikap, harusnya tau yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Salah satu pihak tidak bisa menyalahkan pihak lainnya. Bukan saatnya menyalahkan pihak mana yang salah, tapi yang benar, yaitu melihat dimana posisi kita sebagai aktor saat ini. Apakah sudah benar? apakah ternyata salah? dan yang kita lakukan bukan akhirnya mencari kesalahan itu pada orang lain, tetapi lihatlah kesalahan itu ada dimana disisi diri ini. Tidak akan ada habisnya ketika diri ini yang terus mencari kesalahan tersebut di orang lain, padahal kenyataannya kesalahan ini terletak pada diri sendiri.

Berpikirlah bahwa setiap yang dikerjakan itu bukan hanya untuk diri sendiri. Ada orang lain diluar sana yang berharap besar kepada apa yang kita lakukan hari ini, detik ini. Apa yang sudah terjadi bukan saatnya untuk diabaikan, tapi bagaimana kejadian yang sudah terjadi dijadikan cambukan, peringatan, atau semacamnya. Ingat kesalahan yang dilakukan bukan sesuatu yang harus terulang lagi dan lagi. Jika hidup ini adalah soal ulangan dan kita terus melakukan kesalahan pada nomor yang sama, lalu remedial, dan tetap mengulangi kesalahan pada nomor yang sama, itukah yang didefinisikan sebagai kesalahan? tidak ada efek sama sekali ketika kita mengetahui bahwa kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang sama? tidak ada tindak lanjut dari hal tersebut? lalu, pernah dibayangkan jika soal tersebut jadi soal selanjutnya di kehidupan ini. Mungkin diri ini tidak akan pernah lulus dalam part tersebut.

Rasanya bukan saatnya untuk diingatkan lagi dan lagi, tapi ini lah saatnya untuk mengingatkan .... mengingatkan diri sendiri ...
Hafht ... sadar!seberapa kali lagi harus diingatkan? kapan mau membenahi diri sendiri? kapan membahagiakan orang di luar sana? bukan lagi hanya membahagiakan diri sendiri, kemudian mengecewakan yang ada di luar sana?
Masih sangat amat belum pantas menerima status menjadi orang dewasa ....

MAAF TIDAK MEMBERIKAN YANG TERBAIK HARI INI :(

No comments:

Post a Comment