"Kapan Terakhir Kali Kau Dijemput Papamu?"

Tiba-tiba muncul pertanyaan itu dalam benak saya. Sudah menjadi rutinitas saya setiap pulang magang, melalui beberapa SD dalam perjalananya. Motor-motor mulai memenuhi jalan setiap pukul 17.00, saya mengendarai motor saya untuk kembali ke rumah. Motor saya pun harus dibawa dalam kecepatan 10 km/jam bahkan kurang untuk mengantri jalan di depan sekolah dasar negeri di daerah Kopasus, Jakarta Timur. Motor-motor tersebut berbaris rapi di tepian jalan dengan maksud agar tidak menghalangi jalan utama yang pada saat itu juga ramai dengan orang yang pulang kantor.
Ya .. sekolah yang saya lewati memang sekolah yang baru memulai kegiatan belajar di siang hari, maka jadilah jam 5 menjadi jam sibuk para orang tua untuk menjemput anak-anaknya, begitu pula keriangan anak-anak yang sibuk mencari Ayah, Ibu, atau kakaknya di deretan para penjemput. Itulah rutinitas yang saya lihat setiap harinya, di hari Senin sampai dengan Jumat. Rutinitas yang membawa ingatan saya kembali pada jaman itu, pada jaman saya juga sibuk mencari Papa saya di kerumunan orang tua ketika bel pulang sekolah berdering.

Tiba-tiba muncul,
"Kangen juga yaa di jemput kayak anak SD itu? udah lama banget yaa .. SD loh! Gue kuliah sekarang!"
Padahal sebenernya ketika kuliah ini, papa juga sesekali jemput, sebelumnya SMA? papa sesekali jemput untuk pulang ke rumah? SMP sesekali jemput juga? tapi ketiga masa itu adalah masa dimana papa menjemput ketika aku bilang ke papa:

"Pah, nanti jemput aku ya!"
"Pah, jemput dong! sekarang yaa ..."
"Pah jemput jam berapa? kok belum dateng?"
"Pah nanti aku minta jemput bisa gak? nanti jemput ya pah jam 9..."
"Pah, bisa jemput aku di stasiun gak?"

Beda persoalan dengan ketika papa menjemput saya di waktu SD....
Di mulai sejak saat dimana saya harus memasuki masa SD, hari pertama saya di antar papa, beda dengan kedua adik saya yang hari pertama diantar mama untuk berebutan tempat duduk di hari pertama sekolah. Hari itu istimewa karena aku di antar papa ke sekolah. Papa bukan orang yang bersemangat sepeti mama atau mama lain yang memilihkan tempat duduk terbaik untuk anaknya. JANGAN PERNAH SAMAKAN MAMA DENGAN PAPA, atau sebaliknya. Papa seperti memberikan kepercayaan bahwa anaknya bisa memilih tempat duduk terbaiknya di hari pertama sekolah. Saya ingat sekali, hari itu papa menunggui saya dibalik jendela jelusi kelas saya, sesekali mungkin papa menghilang disaat saya tidak begitu memperhatikannya, jadi saya selalu yakin beliau ada dibalik jendel itu menunggui saya di hari pertama berada di tempat asing.

Hari kedua sekolah,
"Nanti papah tinggal ya kak?"
saya mengangguk .. caranya mengatakan begitu memberikan kepercayaan sehingga saya yakin sekali tidak akan ada sesuatu apapun terjadi. Seakan mengatakan "Gak kenapa-kenapa kan di kelas! Jadi kamu harusnya bisa sendiri."
"Nanti pas pulang papah jemput lagi!"
Itulah yag mengawali ritual papa menjemput saya di sekolah. Waktu itu, pukul 11.00 bel tanda pulang sudah berdering, maka berhamburanlah para murid keluar kelas untuk kembali ke rumah masing-masing. Itulah papa, dengan ajaibnya, papa sudah berada di atas motornya menunggu saya untuk naik ke motor dan kembali ke rumah. Mungkin papa sangat hebat dalam urusan memperkirakan waktu. Tak pernah sedikitpun papa telat ketika menjemput saya begitupun adik saya ketika kami sudah memasuki usia sekolah dan berada dalam satu sekolah yang sama. Rasanya saya tidak pernah berdiri lama di lorong kelas menghindari panas untuk menunggu papa menjemput sehingga ketika papa telat ataupun tidak bisa menjemput saya amat tahu bahwa beliau sedang ada urusan yang tidak bisa ditunda. Maka bisa dibilang, sayalah yang juara untuk pulang tepat waktu karena papa juga selalu tepat waktu dalam menjemput :)
......I can't live without him
.........I can't be a girl like this without him
........Love you, Pah

Comments

Post a Comment

Popular Posts