Saturday, November 18, 2017

EPISODE HIDUP SI KATAK - SI TIPE YANG PEMIKIR

Well, selalu memikirkan apa yang akan dilakukan kadang menyenangkan dan kadang kebalikannya, super menyebalkan. Gak pernah sedetik pun gue berpikir menjadi seseorang yang lets say disebut 'pemikir' adalah menyenangkan, karena dibanding menyenangkannya gue lebih merasa lelah dengan otak gue yang kadang (sangat sering sepertinya) gak sinkron dengan hati gue. Walaupun bukan terlalu buruk karena setiap hal mungkin lebih baik ketika gue rencanakan dengan mempertimbangkan baik atau buruknya which is di setiap pengambilan keputusan, gue akan tau pasti hal baik yang akan gue dapet dan hal buruk yang akan gue dapet juga. Tentu yang baik memang jadi tujuan di setiap rencana tetapi yang buruk adalah resiko yang pasti ada (mengiringi) di setiap mengambil keputusan. Entah orang disekitar gue paham dengan cara gue atau memang gue yang sulit dimengerti, atau mungkin biarlah mereka mengerti sejauh mereka mau mengerti.

Menurut gue pribadi, si tipe pemikir ini mungkin terlalu banyak punya impian yang besar dalam waktu singkat bahkan dia akan bermimpi jauh ke depan melampaui yang lainnya, tapi lagi-lagi itu semua hanya ada dalam pikirannya. Caranya? Ya, (lagi-lagi) harus kembali dipikirkan. Keputusan tentang cara untuk mewujudkan mimpinya merupakan keputusan final yang dengan segala kemungkinan, entah itu baik atau buruknya sudah dipertimbangkan sebelumya. Ketika proses berpikir akan muncul beberapa hipotesis yang mendukung atau menolak si pemikir ini mengambil keputusan. Rasanya ribet? Ya, kenyataannya memang ribet. Mungkin orang-orang disekitar lo akan se-kesel itu melihat lo terlalu "ribet" ketika hanya tentang mengambil sebuah keputusan.


"Let it flow!" atau "Jalani aja hidup ini!" atau seperti tagline-nya Nik* "Just do it", jawaban yang akan lumrah untuk kebanyakan orang ketika menjalani hidupnya masing-masing dan kadang gue mengarahkan otak gue untuk berpikir demikian juga. Haha, ya, karena gue gak mau gue pribadi dan orang-orang yang ada di sekitar gue terjebak dengan segala keribetan mengenai kehidupan versi gue. Tapi kenyataanya .. "How I should I do?" ... "Oh my God, I am stressed" ... "Galau.." ... dan seterusnya-seterusnya yang terjadi pada otak dan hati gue. Implisit, gue akan menanyakan pendapat orang-orang yang gue yakini bisa memberikan pendapat reasonable nya untuk setiap saat gue menghadapi masalah dan mengharuskan mengambil satu keputusan keputusan yang cukup berat (menurut gue)

Kenyataan lainnya adalah terlalu sering keras kepala. Ada beberapa mimpi yang mungkin terlalu impossible atau dengan kata lain gak realistis banget, tetapi seberapapun orang disekitar gue menyetujui ketidak-realistisan itu, gue akan tetap maju dan terus mencari alasan yang mendukung apa yang gue pikirkan (dengan kata lain si yang memberikan pendapat gak akan bilang ke gue bahwa itu impossible). Proses pencarian itu yang terkadang melelahkan secara batin, baik itu dalam hati atau otak yang mulai panas dan gak bisa berpikir jernih.

Butuh pelarian? Yes. Dibandingkan dengan harus menyetujui yang sejujurnya gak bisa gue terima, mungkin gue lebih banyak lari dari masalah yang gue nilai punya resiko besar untuk menjadi suatu hal yang tidak mengenakan. Padahal belum tentu kan akan selamanya tidak mengenakan? mungkin memang akan ada suatu hal yang lebih baik setelah gue melewati hal yang menurut gue tidak enak itu. Tapi, sayangnya ada hati yang merasa keberatan dengan hal itu dan terkadang otak gue tidak mampu untuk melawan si kemauan hati gue. Ya and that's what I said before, hati sama otak gue kadang punya perdebatan yang cukup alot tentang semua hal yang terjadi dalam hidup gue.

So, have you got a same problem with me? And how you solve it all? Very need advised.

No comments:

Post a Comment