Friday, March 30, 2018

INSTALASI SENI DAN MENGAPRESIASI SENI


Sebagai seorang desainer, rasanya bangga jika karya yang kita buat menjadi objek foto bagi banyak orang. Kemudia diupload di media online atau social platform, diesbutkan namanya dan menjadi viral lalu terkenal. Jaman sekarang rasanya semua orang hampir tidak ada yang tidak mau jadi terkenal. Melihat fenomena di internet atau tv, ada aja sesuatu hal yang viral membuat orang yang tadinya hanya orang biasa lalu menjadi terkenal, kemudian di endorse. Ah, sudahlah!

Sebaliknya sebagai penikmat seni, rasanya menyenangkan jika bisa mengunjungi karya-karya seniman besar dunia dan mengabadikan karya tersebut dengan difoto atau berfoto di karya seni tersebut. Keterbatasa lokasi yang jauh jadi pembatas untuk hanya bisa menikmatinya via melihat di sosial media atau internet saja.

courtesy www.chuzailiving.com

2 hari yang lalu, di kantor tetiba muncul pertanyaan “tau gak?”. Baru dua patah kata pun, gue rasanya sudah paham ke arah mana pembicaraan tersebut karena entah beberapa waktu sebelumnya gue sekilas pernah liat artikel yang menyinggung soal masalah ini. Pun kalau gak salah inget memang gue pernah gak sengaja liat salah satu orang berfoto di instalasi yang gue udah kenal sekali itu mirip dengan salah satu instalasi terkenal. Kalian pasti udah tau apa yang sedang terjadi saat ini kan? Ya, tentang sebuah tempat wisata di Bandung yang ternyata menyuguhkan tempat beberapa spot instalasi yang ternyata banyak sekali yang mirip dengan instalasi yang ada di MOIC (Museum of Ice Cream), LACMA (Los Angeles Contemporary and Modern Art Museum), dan bahkan instalasi karya Yayoi Kusama yang di create dengan begitu apiknya di tempat tersebut. Instalasi yang pernah gue liat sebelumnya di salah satu foto Instagram seseorang itu adalah yang instalasi pisang seperti di MOIC. Pada saat itu sih gue berpikir, “Oh mungkin ini emang diambil salah satu spot aja untuk suatu café yang memang fenomena café lucu juga lagi banyak kan di kota-kota besar di Indonesia”. Gue gak begitu terganggu karena positive thinking aja ada konsep lain yang ingin disuguhkan tapi menggunakan ide instalasi pisang pink-kuning itu, tapi terakhir gue sadari, semenjak ini menjadi viral, bahwa memang instalasi tersebut di create sebagai tempat yang perspotnya dikenakan biaya untuk foto, untuk masalah teknis ini gue gak paham karena belum pernah kesana dan gak berniat sama sekali. Parahnya lagi setelah gue tau ada akun instagramnya ternyata tempat ini memang menyuguhkan beberapa instalasi yang super duper mirip dengan karya seni yang sebenarnya juga jadi favorit gue saat ini dan orang-orang pun juga sudah mulai aware tentang Yayoi Kusama, misal.

Sedih, marah, dan kesel sih ketika gue liat foto-foto di akun instagramnya, dan iseng liat tag orang-orang ke akun yang bersangkutan karena gue paham siapa yang membuat karya tersebut, harusnya berada dimana, serta pride nya ketika lo bisa foto dikarya tersebut. Namun, kenyataannya lo temukan di tempat yang dekat dengan posisi lo berada dan hadir tanpa credits ke senimannya. Entah pemahaman orang-orang yang bangga berfoto disana seperti apa, tapi gue gak akan bangga sama sekali. Bayangin deh, itu karya terkenal dan semua orang tau, lalu lo berfoto ditempat yang ‘mirip’, literally mirip, kasarnya gak bisa bedain yang mana yang asli atau palsu hanya lewat foto. Lalu, orang-orang yang lihat foto itu menyadari karya tersebut harusnya dimana, tapi ternyata bukan ditempat yang sesungguhnya. Lalu .. lalu .. dan lalu ….. haha

Gue gak menyalahkan orang-orang yang udah kesana terus menikmati instalasinya karena mungkin mereka bukan orang-orang yang tahu dan paham tentang seni, bahkan karya seni yang sudah terkenal seperti yang disuguhkan itu. Untuk yang sudah tau, mungkin karena kebetulan ada dan dekat kenapa gak diabadikan, ya kan? 

Pertanyaan besarnya untuk pembuat tempat tersebut, apa sih ide dibalik itu semua? Kenapa sampai bahkan kita pun yang tau karya aslinya langsung bilang itu “mirip” dan marah-marah memberikan cap “plagiat”? Kenapa gak dipelajari idenya MOIC misalnya tentang create tempat yang sedemikian bagus lalu diaplikasikan dengan ide baru yang lebih oke kalau bisa lebih bagus malah lebih baik kan? Gue sampai gak habis pikir karena sampai saat ini tempatnya masih dibuka, orang-orang masih kesana, dan gak ada klarifikasi baik dari timnya. Artikel yang gue baca terakhir pun, tim mereka berpendapat bahwa karya mereka gak mirip atau ada elemen yang beda dan mereka akan keep terus instalasinya tapi kalau creditsnya dipermasalahkan baru merekan akan ganti. Oh why? Orang Indo ya, tau salah tapi kalau gak ditegur dan suruh ubah ya gak akan ubah (sad). Gue yang selama 4 tahun kuliah paham bagaimana proses berpikir untuk menghasilkan karya yang baik sejujurnya semarah itu karena mereka sangat gak menghargai orang lain (dan lagi lagi gue menemukan bahwa orang Indonesia poin menghargainya masih kurang). Mereka seenaknya aja menjiplak, yang katanya gak mirip karena ukurannya beda lah segala macam, ya netizen gak selamanya bisa dibodohi, kita bisa lihat itu lebih dari 50% mirip loh.

Gue pribadi berharap tempat ini hadir sebagai suatu tempat yang jauh lebih bagus dari pada tempat-tempat yang karyanya di”plagiat” untuk tempat ini. Gue melihat instalasi-intalasi yang dibuat, dibuat dengan professional, bagus, dan pastinya gak akan menghabiskan budget yang sedikit. Sayang sekali, menghabiskan budget demikian tapi untuk karya-karya yang sifatnya plagiarism, balik lagi kenapa gak dengan konsep baru? Banyak loh pak/bu penggiat seni di Indonesia yang bahkan karya-karyanya bisa mendunia. Kalau menurut bapak/ibu karyanya MOIC, LACMA dan Yayoi Kusama bagus, tolong idenya aja yang dipakai, cara berpikir, cara menghadirkan instalasi yang bagus dan ‘bisa buat foto-foto’ bukan karyanya dibuat ulang tapi diubah sedikiiiiit aja (kalau yang gue liat sih sedikit aja bedanya itu). Sebagai penikmat karya seni, tempat ini punya potensi yang bagu, tapi tolong sekali, rasaya direndahkan sekali seniman-seniman dunia dengan seenaknya dibuat demi keuntungan yang besar tanpa paham apa makna dibalik karya tersebut serta perjalanan sang seniman dalam membuat karya tersebut.

Jadi kepikiran next post mari kita membahas karya aslinya: MOIC, Yayoi Kusama, dana pa sih sebenernya instalasi seni dan bagaimana membuatnya #ok

No comments:

Post a Comment