2018/07/08

13 REASONS WHY, WEEKEND AND ME



::::::::::This post will be contained of privately matters which is Y’all don’t need to read about. In case, I just need to express my feeling through this post, ingnore it!::::::::::


13 Reasons Why, actually gak sengaja nonton series ini karena gak sengaja pula beberapa waktu lalu memutuskan untuk berlangganan Netflix. Hampir semuanya serba gak sengaja, karena emang tiba-tiba tertarik untuk nonton The Crown – one of Netflix’s series dikarenakan mendengarkan soundtracknya ketika memainkan salah satu Daily Mix Playlist di Spotify. Berhubung waktu itu berdekatan dengan libur lebaran yang dapat dipastikan gue sangat tidak berniat untuk membawa laptop padahal udah download satu seasonnya The Crown jadi gue memutuskan untuk install aplikasi Netflix di handphone. Ada free one month ketika pertama kali daftar dan memang sengaja gue save untuk suatu saat gue butuh dengan langganan Netflix ini. Voila, akhirnya sebelum libur hari kerja berakhir untuk libur lebaran, gue bisa nonton series dimanapun gue mau. Selama itu pun, gue meng-explor isi dari aplikasi tersebut termasuk melihat apa sih series yang popular di Netflix. 13 Reasons Why salah satunya dan gue pun sudah familiar dengan judul itu mengingat beberapa kali sering melihat update-an instastory orang mengenai series ini. Then, I started to watch and the story line is interesting. Gue gak pengen ceritain detail tentang seriesnya dan sampai alasan kenapa gue team ship Zach and  Hannah (Who is team Zach and Hannah? J ). Secara garis besar season pertama ini menceritakan tentang kisah seorang murid perempuan di suatu sekolah yang melakukan bunuh diri dan sebelum dia bunuh diri, dia kayak buat rekaman yang menjelaskan alasan kenapa dia bunuh diri untuk didengarkan oleh teman-temanya. Series ini memang cukup menarik karena mengangkat isu-isu yang memang notabene penting terutama di sekolah atau high school di Amerika, tentang bullying, free sex, suicide, ect. Sebegitu pengaruhnya hal-hal kecil yang mungkin gak kita sadari tentang bilang sesuatu ke temen atau mengacuhkan mereka, meremehkan, dan sebagainya terhadap kondisi kesehatan mental mereka. Gue melihat tokoh Hannah dalam series ini kesulitan ketika alone atau bisa dibilang she needs someone to cheer her up and then let her to forget anything about her problem, even a small one. In the same time, she has a problem to express her feeling and well somehow it is happened to me. That’s why I have been trying for letting them out because everything could be happened sometime. I just don’t want to be, you know everyone either. I want to be a positive person, always, and y’all should be too.
Weekend memang sepertinya akan jarang sekali untuk menjadi spesial, haha dan tolonglah guys kali ini gue jangan diprotes, “aisyi kenapa deh?” “kok tumben?” “ini pasti lo lagi galau ya”. I will say, ‘have you read the paragraph before?’ … I just want to embrace mine so just close this page if you don’t want to read this, some part will cheezy haha. Menghabiskan waktu jalan kaki dari daerah Cimanuk sampai ke BIP, Bandung Indah Plaza, ditambah dengan keliling-keliling satu mall ternyata menarik untuk dilakukan setiap weekend. I haven’t known before that walking for 20 minutes is pleasant and very suitable activity to do in Bandung City. And I get that knowledge because of my loneliness. I don’t blame it because I (have to) enjoy it and I did. Hanya saja sedikit perasaan dan harapan itu kadang muncul while I am taking my rest time ketika pada saatnya gue bener-bener sendirian. I am kind of overthink person dan momen-momen kesendirian itu yang kadang menyebalkan sih. Ada aja yang tiba-tiba kepikiran terus kadang bikin sedih karena di beberapa pikiran yang muncul gak ada tempat yang bisa dicurahkan dengan kata lain gue pikirin sendiri aja. Terus supaya gue tetep positive, sering kali gue berpikir bahwa jangan-jangan gue-nya yang gak pengen menyusahkan orang lain dengan ketidakpentingan gue jadi ya I have been trying to forget karena emang gak mesti dipikirin banget. Iya gak sih? Dan inilah yang gue lakukan supaya gue gak pusing mikirinnya: be smile J because I don’t know how to ….
I want to end this post because I don’t to be shrunk. All in all, I am just curious about the plan that I always imagine. Will it be like this? Or like that? Or this, this and that?. I have not gotten the answer yet and I have no words for that. I just want remind myself bahwa yang menurut gue buruk mungkin bukan suatu hal yang buruk, it is the best.
#embraceyours

No comments:

Post a Comment