2017/10/15

GENERASI BAPER


Gue telah sampai di titik dimana merasa sosial media, terutama instagram, telah menjadi racun bagi kehidupan sehari-hari. Gue tiba-tiba merasa disuatu titik bahwa gue harus stop untuk main instagram. Bukan menghakimi instagram dan segala fiturnya didalamnya, gue akui bahwa fitur yang hadir di instagram sungguh menarik bagi perkembangan teknologi jaman sekarang. Pengguna instagram dihampir seluruh dunia sangat amat bebas membagikan semua moment atau bahkan hasil sebuah pemikiran. Sebaliknya kita pun bebas untuk bisa mengetahui apa yang sedang menjadi moment bagi si pemilik akun dan juga apa yang sedang dipikirkan oleh si pemilik akun. Sayangnya, saking bebasnya, gue sampai kepada titik itu, mulai muak dan merasakan kebullsh**an dari semua ini. Tepatnya sekitar 2 minggu yang lalu (lebih), ketika gue merasa mood gue up and down dengan sendirinya tanpa disebabkan oleh hal yang benar-benar gue jalanin sebagai rutinitas. Ya, you know kerjaan gue hanya berinteraksi dengan aplikasi desain, rhinoceros, setiap hari dan harusnya gak ada yang salah dengan rutinitas gue. Kemudian gue sadar bahwa ­smartphone yang gue punya saat inilah yang sangat dan sangat mengganggu gue dan gue yakin kalian juga (sudah kalian sadari atau belum). Kesalahan memang terletak pada diri gue sepertinya karena intensitas gue terhadap smartphone sangat tinggi saat itu, entah memang kepentingan dari chat atau kegiatan gak penting yakni bukain semua instastory orang-orang.

2017/10/12

DESAIN DAN MANUSIA

Malam ini gue belajar bahwa sesungguhnya mendesain lebih dari sekadar membuat sebuah konsep dan mengoperasikan autocad, bahkan lebih dari sekadar menjual jasa dan mendapatkan uang. Mendesain sebuah desain lebih kepada tentang kita menyelaraskan kehidupan yang dirasa kurang baik menjadi baik di waktu selanjutnya. Mendesain sebuah desain adalah tentang kita berhubungan satu sama lain. Bukan merasa lebih baik dari pada yang lain tapi bagaimana kita memberikan yang terbaik bagi yang lain. Ada kalanya marah, sedih, dan kesal hadir, tapi itu wajar, manusia namanya, tapi dengan mendesain kita seharusnya belajar untuk menaklukan itu semua. Kita semua tau itu tidak baik toh!

2017/09/09

09/09

Ketika hidup harusnya singkat
Namun waktu bisa dihamburkan
Kala dimana ingin bergerak lambat
Nan lembut menikmati setiap detik
Lambat bukan berarti tidak sama sekali
Lambat memberikan makna
Lambat mengajarkan untuk melihat
Melihat yang berbeda antara melihat
Lambat mengajarkan untuk memahami
Memahami yang berbeda dari memahami
Kenapa yang singkat harus dijalani dengan cepat
Padahal lambat lebih sesuai
Padahal lambat lebih ada

2017/08/26

TERLEMPAR KEMBALI

Pernah dengar kalau setiap orang punya gaya belajar/memahami sesuatu dengan berbeda-beda? Yap, ada beberapa cara belajar dalam ilmu psikologi,. Setiap orang punya kecenderungan atas suatu gaya tertentu, beberapa diantaranya Visual Learners yaitu orang-orang ini akan cenderung belajar/memahami sesuatu dengan bukti yang terlihat baru dapat memahaminya atau dengan kata lain dapat dengan mudah paham dengan suatu yang bentuknya visual, misalnya dengan cara menonton, melihat gambar, dan bahkan beberapa diantaranya sangat suka mentranformasikan sesuatu menjadi sebuah diagram untuk memudahkan agar dimengerti (sebut saja itu gue salah satunya, haha). Beberapa diantaranya adalah Auditoy Learners karena mereka lebih cepat paham dan mengerti dengan cara mendengarkan atas sesuatu, sebut saja kelompok ini akan cenderung lebih cepat mengingat dengan mendengarkan pidato seseorang, atau penjelasan guru saat di depan kelas, beberapa diantaranya biasanya punya kebiasaan merekam pembicaraan guru atau motivator, ect untuk didengarkan lagi. Kemudian, beberapa diantaranya Kinesthetic Learners karena kelompok ini mewajibkan untuk menyentuh sesuatu sebagai bukti/tanda atas suatu judul pembelajaran tertentu, semisal ketika teori newton yang apel jatuh, mereka sangat bisa dipastikan akan sangat mudah mengingat jika pada saat itu ada apel yang dipegang.

2017/08/03

ASLINYA MANA ?

Kita semua sepakat atau gue pribadi meyepakati bahwa negara kita punya anugerah luar biasa lewat keberagaman suku yang dimilikinya. Sungguh luar biasa bahwa negara dengan berbagai kelompok manusia yang meyakini akan persamaan asal usul, agama ras atau bahkan kombinasinya, atau kita biasa sebut itu 'suku' dapat bersatu menjadi sebuah negara, yaitu Indonesia. Punya sejarah yang amat panjang, well secuil yang kita pelajari selama sekolah bahwa negara kita dijajah dan sebagainya, mungkin menjadi salah satu faktor utama kenapa negara ini ada disamping setiap suku punya kepercayaan masing-masing akan cara-cara menjalani hidup. Yaps, kita pasti punya cara masing-masing dalam menjalani hidup, tanpa disadari atau tidak adat istiadat yang dianut dari suku tertentu itulah yang memberikan aturan-aturan tertentu terhadap masing-masing individu, khususnya di Indonesia.

"... the everyday flow of work and talk, moments occur in which people reflect on and even objectify their world."  -- Webb Keane, The Spoken House: Text, Act, and Object in Eastern Indonesia

Sore ini, ketika menjalani rutinitas naik ojek online, bapak ojeknya tanya asli dari mana. Gue jawab "saya asli Jakarta pak" dan kemudian mengingatkan gue ketika mengambil kelas Arsitektur Etnik setahun yang lalu ketika kuliah. Entah dipertemuan kapan, sang dosen bertanya ke semua mahasiswa mengenai masing-masing suku yang "dianut". Beberapa dari mereka yang mungkin lama tinggal di Jakarta, seperti gue (bahkan gue tinggalnya di Depok), lumayan kesulitan dan cukup bingung mengenai identitas suku kita. Sampai bapaknya memaksa tanya, "Ya, bayangin aja nanti kamu kalau nikah mau pake adat apa?" :)

Lalu, ketika lo ditanya "suku lo apa?" atau "lo orang apa?", adakah yang sama seperti gue bingung jawabnya apa. Akhir kata lo akan menjawab "gue mah orang Indonesia aja"